Home > only a plain me > berapa sih 1 ditambah 1?

berapa sih 1 ditambah 1?

Matematika merupakan pelajaran yang susah susah gampang, kadang menyusahkan tetapi kadang berperan vital dalam kehidupan. Well some people say matematika MAkin TEkun MAkin TIdak KAruan, mungkin akronim ini tepat untuk menggambarkan evolusi pemahaman matematika.

To the point i will not discuss about maths at all in this story, instead lets look at different perspective of it😀

So dont worry if you have no interest in maths (=

Pertanyaan paling awam dalam matematika ialah perjumlahan, well saya kira pengenalan angka baik latin romawi ataupun basis bisa diabaikan😛, dan sejak kecil kita diajarkan menghitung dimulai dari angka 0 yak nol, angka bulat yang mirip donat ini. Akan tetapi arti matematika baru dapat ditemukan di pertanyaan “berapa 1 + 1?”

Ingat kah anda, sebagai siswa/i Sekolah Dasar atau bahkan Taman Kanak Kanak, kita diberitahukan bahwa hasilnya adalah 2, tanpa perasaan curiga kita menerima, yah itulah doktrin guru. Akan tetapi ini sesuatu yang benar adanya, statement ini tidak terbantahkan dalam konteks normal, please ignore absurd conditions😛.

Semakin beranjak dewasa kita di ajarkan banyak hal mengenai matematika yg dimulai dari penjumlahan sepasang satu itu. Akhirnya kita sampai di jenjang dimana kita dapat berfikir, apakah ini benar apakah ini tepat. Setelah kemampuan analisis kita membuktikan bahwa 1 + 1 adalah angka yang mendekati 2 atau apa lah dengan kosa kata yang lebih technical berbau sok sokkan ;P

Pembekalan telah komplit,segala macam pengetahuan telah terbekali, segala kemampuan telah dikuasai dari management, sampe art. Kita dipaksa untuk masuk ke dunia yg sebenarnya,yap dunia kerja. Disini tidak terlihat kesetaraan yang di gembar gemborkan terdahulu, santai dan pantai pun hanya kenangan masa lalu, orientasi kita berubah, uang, istri, anak, bahagia menjadi prioritas. Well semua tak dapat disalahkan, bahkan ketika ditanya berapa satu ditambah satu? jawabannya sangat tak terbayangkan, dahulu dengan tegasnya mengatakan DUA!! sekarang dengan ragu ragu ” bapak mau nya berapa?”.

Ya ini benar2 terjadi, sebuah lompatan atau terjunan, tak ada yang bisa menjawab.

Dari kecil kita sebenarnya didoktrin semua yang bagus bagus, menolong nenek menyebrang, tenggang rasa kepada sesama beragama, merokok itu merugikan, korupsi itu dilarang, ataupun say no to drugs.

Semakin dewasa kita dapat berfikir, benarkah nilai nilai yg ditanamkan, mereka menemukan jati diri mereka, mereka memupuk dan menyiram apa yg telah ditanamkan terdahulu. Maka dikenal-lah istilah idealisme

Namum, idealisme ini mudah luntur, sama halnya dengan kain2 murah di pinggiran jalan, makin jauh kita berjalan dari start makin blur penglihatan kita terhadap apa yang ada di belakang, makin tinggi kita memanjat makin kencang angin berhembus, semakin gampanglah haluan kita berubah.

well, I hope to keep my idealism burning.

Categories: only a plain me
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: