Home > just for fun > Gunanya peribahasa

Gunanya peribahasa

alkisah seorang remaja, ujang biasa di sebut, pujangga kampung melati. Orangnya biasa saja, suara sedikit lebih baik dari dentuman pintu, intelectual sedikit lebih tinggi daripada anak seusianya. Yang menarik dari ujang adalah cara ia mengungkapkan apa yang ia pikirkan.

Ketika anak anak sebayanya membaca novel twilight, harry potter, ataupun wiro sableng, ia memilih KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai bacaan utama. Anak yang langkah tepatnya =D

Suatu hari ujang sedang duduk duduk santai ditepi pantai melakukan pemantaian terhadap lantai lantai penduduk (adoh maksa deh! @.@)

Sekonyong konyong sesosok gadis ayu nan manis menangis dan mengemis tissue kepada ujang

Ujang : ” ada udang dibalik batu, apa yang bisa ujang bantu?”

Cewe : ” saya mau pinjam tissue nya boleh? saya janji akan balikkin ditempat”

Ujang : “pucuk dicinta ulam pun tiba, si eneng meminta selusin pun tak apa”

diberikannya lah sehelai tissue kepada sang wanita, sambil membelai rambut sang wanita ujang bertanya ” ada asap ada api, bolehkan adinda menjawap apakah yg sedang terjadi”

sang wanita bercerita tentang kisah sedihnya

ujang bujangan ini tak ada pilihan lain, pria sejati takkan membiarkan seorang wanita menangis dihadapannya, maka berbalik badan lah ujang.

Mencari ide itulah yang dilakukan ujang, membuat gurauan tekatnya, menghapus air mata sang wanita tujuan hidupnya dihari itu.

Nampaklah sesosok bayangan hitam, yg dimiliki makhluk misterius dengan bulu bulu halus berwarna putih menutupi sekujur tubuhnya

“memungut koran di depan pintu, apakah gerangan sosok itu?” Ujang mencoba mengalihkan pemikiran sang wanita

dan apa yg diharapkan ujang, pemikiran sang wanita teralihkan, isak tangis tak terdengar, raut cemberut tak terlihat, tetesan air mata tak jatuh lagi

Keheranan muncul menggantikan kesedihan

“badai pasti berlalu, wanita cepat beruba” ucap ujang dalam hati

sedikit demi sedikit, walaupun bukan bukit yang tercipta melainkan seekor anjing berparas cantik ditutupi bulu halus berwarna putih, anggun tanpa terkesan arogan..

sebelum narasi berlanjut, tiba tiba ujang memotong “Tak ada gading yg tak retak, wih ada anjing kepala pitak”

Tiba tiba tertawalah sang wanita, usut teusut diusut menyusut ternyata mendengar ujang mengucapkan hal yang konyol dengan wajah tak kalah konyolnya ini telah dengan serta merta menghibur hati sang wanita.

Sang wanita tertawa cukup lama sampai akhirnya ia berhenti, walaupun demikian kontraksi otot otot di perut sang wanita ini terus menegang membuat kegelian sang wanita ini memuncak.

Ini berimbas pada keinginan sang wanita untuk buang air kecil

” maaf bang, permisi mau buang aer kecil dulu” kata sang wanita

” oh silahkan, apa ga sekalian buang air besar juga neng?” jawab ujang dengan polos

” siapa kamu berani nyuruh nyuruh saya?” ucap sang wanita dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya

” oh saya teh ujang” dengan lugunya jawab ujang

” saya ga perlu nama anda!” situasi mulai memanas

” saya teh sebenarnya penganut paham sekali menyelam minum air, sekalian BAK, BAB juga atuh” entah apa yg dipikirkan ujang hingga dia melontarkan kalimat itu

bukannya senang atau tertawa seperti yg diharapkan ujang malah membuat hati sang wanita bertambah panas, raut muka wanita tersebut berubah dari ayu menjadi layu eh sangar.

melihat perubahan raut muka sang wanita bergetarlah bujangan kita satu ini, malahan ujang tambah tertarik dengan wanita tersebut, maklum kapan lagi bujangan lapuk ini ditemani sesosok bidadari berduaan saja, biasa nya ditemani se rombongan nyamuk yang bergantian mengerogoti darah ujang

” ah neng cantik kalau marah” ucap ujang

belum sempat si wanita bereaksi ujang menambahkan ” neng masih perawan?”

marahlah bukan kepalang sang wanita itu, kenal tidak dikenal, dilihat saja baru pertama kali berani menanyakan hal yg tidak tidak pikir sang wanita

” APA APA AN KAMU?” teriak sang wanita

dengan malu malu ujang menjawab ” saya hanya penganut malu bertanya sesat dijalan”

*plak* *Plak* *PLak* *PLAk* *PLAK*

tak terelakkan empat tamparan melayang ke pipi dan jidat ujang, ujang terkapar tidak jelas bentuknya

” aduh apes deh,udah jatuh tertimpa tangga, udah dibantu malah dilempar ke naga”

Categories: just for fun
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: