Home > fiction, just for fun > Kisah dibalik Kegagalan PSSI

Kisah dibalik Kegagalan PSSI

Alkisah beberapa tahun terakhir persepakbolaan Indonesia bukannya menjulak naik malah jalan ditempat atau bahkan tergelincir kebelakang. Hal ini menggelitik para pengurus PSSI untuk bertindak cepat agar hal ini dapat dicegah dan dipulihkan, mengingat era 60an Indonesia merupakan macan asia. Kini macan asia telah ompong dimakan usia, para pemain seperti kehilangan motivasi sama halnya macan kehilangan taringnya.

Masyarakat enggan mendukung kesebelasan tim nasional Indonesia dikarenakan rentetan kekecewaan, bahkan para pendukung setia pun beralih menjadi penganut anarkis di sekitar area pertandingan. Pengurus PSSI di tuduh sebagai biang kerok kemerosotan yang terjadi terhadap prestasi tim nasional Indonesia. Alasannya sangat beragam, dari yang tidak berkompeten, mencari kepentingan sendiri bahkan ada yang menyebutnya kasihan saja dan memberikan posisi itu kepada dirinya.

Tentu saja hal ini membuat berang para pengurus PSSI, mereka merasa dilecehkan dan bertekat membungkap mulut mulut tidak seronok tersebut. Akhirnya para pengurus PSSI ini berupaya untuk menimba ilmu di negeri seberang, setelah lama berunding mereka menyetujui bahwa Belanda adalah negara yang tepat untuk dikunjungi dengan tujuan studi banding.

Memang Belanda sangat disegani di kancah International, bagaimana tidak gaya total football yang dikembangakan di era 80an mampu menghipnotis jutaan pasang mata untuk menjagokan negeri kincir angin tersebut, walaupun akhirnya yang terbaik belum tentu pemenang. Pengurus PSSI ini berpendapat bahwa tipikal pemain pemain belanda ini sangat mirip dengan pemain pemain Indonesia dari segi teknik maupun ketampanan (-.-).

Selagi berguru di Negeri Ratu Elizabeth tersebut mereka melakukan pengamatan sangat mendetail mengenai pembinaan pemain dan kepelatihan. Mereka tidak menemukan hal yang spesial di negeri yang konon pencetus sepak bola total ini. Maka mereka pun bertanya langsung kepada pengurus persepakbolaan belanda mengenai hal ini.

Manager tim Belanda mengatakan, disini semua sama seperti negara negara lain termasuk Indonesia tapi khusus untuk pelatih , kami memilih pelatih yang sangat berkualifikasi untuk menjabat. Hal ini tentunya sangat membuat pengurus PSSI penasaran, “Apa indikasi bahwa pelatih itu berkualitas? ”

Di jelaskan lah bahwa pelatih itu tidak hanya mengerti persepakbolaan tapi juga mampu berkomunikasi kepada tim dan pengurus lainnya, dan yang terpenting memiliki IQ yang tinggi agar racikan strateginya tak gampang dibaca musuh tapi mudah dimengerti tim nya sendiri.

Pengurus PSSI hanya mengangguk saja, tapi mereka masih bingung seberapa tinggi standar IQ untuk pelatih Belanda.

Manager Belanda melanjutkan, disini kami hanya berminat untuk mengkontrak pelatih dengan IQ yang menyetarai Albert Einstein yakitu sekitar 150-160an saja.

Pelatih Belanda dikala itu adalah Marco Van Basten seorang legenda di AC Milan.

Pengurus PSSI tetap ragu apakah Marco Van Basten benar benar memiliki IQ yang sangat tinggi sehingga mereka menginginkan pembuktian.

Manager tim Belanda lantas memangil Marco Van Basten, beberapa saat kemudian Marco Van Basten muncul maka manager tim Belanda bertanya

“Siapa nama anak dari ibu dan bapakmu tetapi bukan adikmu atau kakakmu?”

“MARCO VAN BASTEN” jawab nya tegas bahkan para pengurus PSSI belum sempat mencerna pertanyaan tersebut

Hal ini membuat pengurus PSSI kagum dan percaya akan tingkat intelektual Marco Van Basten. Mereka pun bertekat memberikan tes serupa untuk bakal calon pelatih tim nasional Indonesia yang akan berlaga di Piala Asia 2007 nanti.

Di panggilnya sepuluh calon pelatih, untuk pertama kalinya diadakan tes tertulis kepada calon pelatih tersebut, tes ini berisikan materi materi persepakbolaan dari sejarah sepak bola sampai peraturan peraturan. Pengurus PSSI ini serius menginginkan pelatih dengan pemahamana persepakbolaan yang tinggi.

Ternyata hal yang terjadi sungguh diluar dugaan, ke sepuluh calon pelatih tersebut memiliki fundamental dan basis pemahaman persepakbolaan yang sama tingginya. Hal ini membuat para petinggi PSSI melakukan penjaringan tahap ke 2 yakitu tes wawancara mengenai visi misi dari calon pelatih.

Ternyata hal ini membuat gagal seluruh calon pelatih yang ada, mereka semua dinyatakan tidak lulus di tahap kedua ini setelah terdiam tak bisa menjawab beberapa pertanyaan menyangkut intelektual tes.

Kemudian keesokan hari nya,para petinggi PSSI membeberkan apa yang terjadi di konferensi pers. Pihak wartawan dari seluruh pelosok kota di Indonesia hadir memadati lokasi konferensi pers, tak hanya itu beberapa wartawan tabloid olahraga mancanegara pun hadir menyaksikan seolah olah ini acara super akbar tahun ini

” Tak ada dari sepuluh calon pelatih yang direkomendasikan berhasil melalui serangkaian tes yang ada. ”

Statement ini membuat heran para wartawan tentunya, ada apa dibalik serangkaian tes yang ada, apakah memang seberat itukah?

” Tes macam apa yang diberikan,pak? ” tanya satu wartawan

”  Mula mula kita seleksi dengan tes tertulis yang berisikan pertanyaan pertanyaan seputar persepakbolaan yang kedua adalah tes wawancara yang meliputi pembeberan visi misi dan pengetahuan lainnya seputar sepakbola, di tes ke dua kesepuluh pelatih itu gagal semua di tes kedua karena satu pertanyaan ”

” Pertanyaan macam apakah itu? ” tanya seorang wartawan yang lain

” Kita hanya menguji seberapa jauh tingkat intelektual calon pelatih kita,maka kita bertanya satu pertanyaan seperti yang ditanyaan manajemen Belandak ketika merekrut pelatihnya. Pertanyaan nya adalah

Siapa nama anak dari ibu dan bapakmu yang bukan adik dan kakakmu?

Sontak pertanyaan ini membuat para wartawan yang hadir saling bertatap muka seolah olah di sekeliling dirinya terdapat jawaban akan pertanyaan ini.

Sesaat kemudian para hadirin ini mengangguk bahwa calon pelatih ini kurang kompeten dalam segi intelektual seperti juga mereka

” Apakah jawaban nya,pak? ” tanya seseorang dari belakang

” Marco Van Basten! ” jawab pengurus PSSI tegas

Pihak wartawan pun mengangguk tanpa mengerti maksud nya, tidak jelas juga apakah ini merupakan anggukan untuk memuji pihak pengurus PSSI akan kecerdasannya ataukan kecewa terhadap betapa pintarnya pihak PSSI.

Hal ini diberitakan ke seluruh khalayak ramai yang menangis setelah membaca berita tersebut, entah tangis bahagia ataukah keprihatinan

-disadur dari berbagai sumber dengan perubahan yang secukupnya-

Categories: fiction, just for fun
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: