Home > fiction > ketika ku berandai

ketika ku berandai

Ah,terbangun kembali,bukan mimpi yang kumau, tapi tetap banyang banyang nya terus tergambar jelas untuk beberapa waktu kedepan di pikiranku. Duduk diam, mengubah pola pernafasan berharap ketenangan menggantikan kecemasan,oh tidak, ini tidak membantu ku. Di keadaan yang sangat desperate ini kutampar pipiku keras keras *prank*,satu kali tak cukup pikirku *prank* oh dua kali, oh sakit temanku tolong bantu aku hilangkan kecemasan ini. Ah ini cukup membantuku,ku berdiri membetulkan pakaian yang lusuh setelah beberapa saat berguling guling di tempat tidurku. Kuambil segelas air dan kuteguk semuanya, ah kesadaran ku perlahan lahan kembali ke pelukkanku.

“Oh jam berapa ini?” tanya ku sendiri, sedikit linglung akibat efek racun bunga tidur beberapa saat lalu, kugapai handphone ku yang tak jauh dari posisi ku saat ini. “17.35,oh well baru sembilan jam” tak mengerti juga apa maksudku, setengah kemudi pikiranku masih terinvansi alam bawah sadarku dan ketika aku sadar mengatakan hal itu bayangan banyangan yang seharusnya tak kuharapkan muncul lagi, tidak sejelas pertama kali, tapi tetap bisa kurasakan kehadirannya.

“shit!” jeritku, mengapa harus kualami hal hal yang seperti ini, raga dari tulang dan otot ini terus membuatku semakin rapuh,walupun seberat apapun latihan yang kutempa. Kadang kumenyesal memiliki raga yang terus membesar, kuharap diriku semungil mungkin sampai sampai tak dirasakan siapapun disekitar. Aku iri pada bayangan ku sendiri, tanpa daging dan darah tetap bersemangat mengikuti ku kemanapun, tak pernah mengeluh seperti yang kulakukan sendiri,huh. Bayangan eh? Kuberandai berubah tempat dengan mu kawan setiaku, tentunya engkau juga bosan menurut kaki ini melangkah ya kan?

Pasti hidup ini sangat nyaman menjadi bayangan, tanpa dikejar kejar bayangan lainnya, oh ya bayangan tak memiliki bayangan. Mengamati berbagai aspek hidup dari bawah tapi tak pernah sedikit keirian dari dirimu untuk merangkak keatas sendiri, hanya keberuntungan saja dirimu bisa mendaki beberapa dinding tinggi dan melihat sesama mu dibawah.

Ah aku iri padamu temanku, andai aku menjadi engkau tak perlu malu kutatap raga daging yang menawan,tak perlu berpura pura melihat raga raga lain di sebelah ataupun si belakang dia, karena ku dapat bersembunyi dibawah bayang bayang raga batu atau apapun itu. Ku dapat mendekati mu tanpa menjejakan satu langkah tambahan, berharap matahari lah yang akan membantu ku mencapaimu. Tak berharap di tatap balik ataupun di berikan senyuman sebagai kenang kenangan hari itu,oh betapa irinya diriku teman.

Dirimu tak memerlukan apa yang dinamakan perhatian, mungkin perhatian hanya diberikan untuk membentuk hasil karya eksotis dengan dirimu sebagai figuran. Menyelinap di antara kegelapan tanpa terhalangi apa yang dikatakan ruang dan waktu sebagai batasan raga daging ini, tanpa terduga berada di dunia yang tak pernah terbayangkan oleh temanmu ini. Dengan mudahnya kau dapat  menemani raga daging impian temanmu ini di gelap nya malam tanpa takut diketahui keberadaanmu, menatap dari dekat semua gerak geriknya dengan leluasa. Mendekapnya di kala kesendirian malam dengan selimut gulita ketika raga daging itu mulai letih tanpa membangunkan dirinya.

“hei,henti kan omong kosong ini!” sepertinya kendali ku seutuhnya telah kembali, talk to you later my friend

Categories: fiction
  1. je_z
    September 26, 2010 at 1:12 pm

    post geje yet daleeemmm hyahahahhaha

  2. tawadanpeluhku
    September 27, 2010 at 2:25 am

    whew,kontradiktif apo yg kau omongke

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: